Tips Mengasuh Anak

Anak Bermain Peran: Panduan untuk Perkembangan dan Dukungan Orang Tua

Anak Bermain Peran: Panduan untuk Perkembangan dan Dukungan Orang Tua
26 Jan 2026

Jika Anda pernah melihat seorang anak memasak sup tak terlihat, memeriksa kesehatan boneka beruang, atau mengubah ruang tamu menjadi kastel penuh naga—selamat, Anda telah menyaksikan fase anak bermain peran. Bagi orang dewasa, hal ini mungkin terlihat lucu atau konyol. Namun bagi anak-anak, bermain peran adalah pekerjaan yang sangat serius.

Dalam panduan ini, kita akan membahas mengapa bermain peran sangat penting, keterampilan apa saja yang didapatkan anak dari kegiatan ini, tahapan perkembangan bermain peran, serta bagaimana orang tua dapat mendukung bentuk pembelajaran berbasis bermain yang luar biasa ini.

Mengapa Bermain Peran Penting bagi Anak

Bermain peran bukan sekadar hiburan. Kegiatan ini memiliki peran besar dalam membentuk cara anak memahami dunia di sekitarnya.

Saat anak bermain peran, otaknya bekerja di banyak level sekaligus. Mereka membayangkan berbagai situasi, merencanakan langkah, mengambil peran, memecahkan masalah, dan menerjemahkan ide menjadi tindakan nyata. Semua ini mengaktifkan proses kognitif yang berkaitan dengan memori, penalaran, dan kreativitas.

Bermain peran juga memberi anak ruang yang aman untuk belajar tentang perasaan. Ketika seorang anak berpura-pura menjadi anak kucing yang sedih atau superhero yang frustasi, mereka sedang melatih empati dan kesadaran emosional. Anak akan belajar seperti apa bentuk emosi, bagaimana rasanya, dan bagaimana orang lain merespons emosi tersebut.

Saat bermain peran, anak menjadi sutradara. Mereka menciptakan alur cerita, memilih karakter, dan menentukan apa yang terjadi selanjutnya. Hal ini memberi mereka kendali dan kepercayaan diri, sekaligus mendorong kemampuan memecahkan masalah dan berpikir mandiri.

Bermain peran  juga secara alami meningkatkan kosakata. Anak meniru kalimat dari kehidupan sehari-hari, menciptakan dialog antar karakter, dan mencoba kata-kata baru. Tiba-tiba, balita yang biasanya hanya mengucapkan dua kata bisa berubah menjadi “pemilik restoran” yang cerewet, menerima pesanan Anda dengan kalimat lengkap.

Manfaat Anak Bermain Peran

Bermain peran mungkin terlihat sederhana, tetapi di balik itu semua terjadi proses perkembangan yang sangat besar. Berikut beberapa manfaat utama yang perlu Anda ketahui:

1. Keterampilan Kognitif

Bermain peran memberikan latihan mental yang sangat kuat bagi anak. Saat mereka menciptakan skenario imajiner, anak sedang melatih kemampuan berpikir penting. Mereka merencanakan apa yang ingin dilakukan, menentukan kelanjutan cerita, dan mencari solusi atas masalah yang muncul di dunia khayalan mereka.

Kegiatan ini membantu anak memahami hubungan sebab-akibat, memperkuat daya ingat, serta belajar mengatur dan menyusun pikiran.

2. Belajar Berinteraksi dengan Orang Lain

Bermain peran adalah salah satu cara paling alami bagi anak untuk melatih interaksi sosial. Baik bermain dengan saudara, teman, maupun boneka, anak belajar bekerja sama, bergiliran, dan bernegosiasi mengenai peran.

Mereka juga belajar bagaimana berkolaborasi agar cerita tetap berjalan. Dari sini, anak mengembangkan keterampilan sosial penting seperti berbagi, kerja tim, kompromi, dan memahami aturan sosial.

3. Keterampilan Emosional

Bermain peran menyediakan cara yang aman dan lembut bagi anak untuk menjelajahi emosi yang besar. Terkadang anak belum memiliki kata-kata untuk menjelaskan perasaannya, sehingga mereka mengekspresikannya melalui bermain peran.

Anak mungkin berpura-pura menjadi anak anjing yang ketakutan, boneka yang sedih, atau superhero yang berani. Inilah yang membantu mereka mengenali berbagai jenis emosi. 

Saat sebuah boneka “menangis”, anak mungkin menenangkannya, sekaligus melatih empati dan kepekaan emosional. Bermain peran juga memberi kesempatan bagi anak untuk memproses rasa takut atau kekhawatiran dalam suasana yang menyenangkan.

4. Meningkatkan Kosakata dan Kepercayaan Diri

Bermain peran secara alami mendorong anak untuk berbicara, baik saat mereka berbicara dengan mainan, memerankan karakter, maupun berinteraksi dengan teman bermain. Dalam jenis permainan ini, anak menggunakan kosakata baru, mencoba berbagai struktur kalimat, dan melatih kemampuan bercerita.

Permainan sederhana seperti pura-pura “pergi ke dokter” dapat memperkenalkan kata-kata seperti “pasien”, “suhu”, dan “obat”. Anak belajar mengekspresikan ide dengan jelas, sekaligus belajar mendengarkan dan merespons orang lain dalam alur cerita.

5. Fungsi Eksekutif (Executive Functioning)

Fungsi eksekutif mengacu pada keterampilan mental yang dibutuhkan anak untuk tetap fokus, mengikuti aturan, mengelola emosi, dan mengambil keputusan. Bermain peran secara alami memperkuat keterampilan ini dengan memberi anak kesempatan untuk merencanakan, mengatur, dan mengendalikan perilaku mereka di dalam sebuah cerita. [Gill Althia Francis, 2023]

Ketika anak tetap berada dalam peran, mengingat detail dunia imajiner mereka, atau menyesuaikan cerita saat terjadi perubahan, mereka sedang melatih kemampuan konsentrasi dan berpikir lebih terbuka. Memainkan peran seperti guru atau dokter juga membantu anak belajar melihat dari sudut pandang orang lain.

6. Kreativitas & Imajinasi

Bermain peran adalah inti dari kreativitas. Kegiatan ini memungkinkan anak menciptakan dunia baru, mengubah benda sehari-hari menjadi alat ajaib, dan mencoba ide tanpa batasan. Sendok bisa berubah menjadi mikrofon, selimut menjadi jubah superhero, dan kotak kardus seketika menjadi pesawat luar angkasa menuju Mars.

Melalui petualangan imajinatif ini, anak belajar berpikir secara berbeda, mencoba ide-ide baru, dan menciptakan cerita yang unik. Kreativitas yang berkembang lewat bermain peran membantu anak menjadi pemikir yang inovatif.

Ini akan mendorong mereka untuk menjelajahi berbagai kemungkinan, berpikir out of the box, serta menghadapi pemecahan masalah dengan percaya diri dan penuh kegembiraan.

Tahapan Bermain Peran: Usia 12 Bulan hingga 5 Tahun

Setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda, tetapi tahapan umum berikut dapat membantu Anda memahami bagaimana bermain peran biasanya berkembang.

A. Usia 12–18 Bulan: Percikan Imajinasi

Pada tahap ini, anak mulai menunjukkan bentuk paling awal dari bermain peran. Anda mungkin akan melihat:

  • Meniru kegiatan sehari-hari, seperti berpura-pura minum dari cangkir atau berbicara di telepon mainan.
  • Menggunakan benda nyata untuk permainan pura-pura sederhana, seperti menyisir rambut atau memberi makan boneka.
  • Permainannya masih singkat dan sederhana, tetapi inilah fondasi awal dari kemampuan berpikir simbolik.

B. Usia 18–24 Bulan: Bermain Peran Langkah Pertama

Anak mulai melampaui permainan pura-pura untuk diri sendiri dan mulai bermain pura-pura bersama orang lain.

Perilaku yang umum terlihat antara lain:

  • Memberi makan boneka dengan sendok
  • Membuat hewan mainan “berjalan” atau “makan”
  • Berpura-pura menidurkan mainan
  • Menggunakan benda sesuai fungsinya, tetapi dengan imajinasi yang lebih berkembang

C. Usia 2–3 Tahun: Variasi Bermain Peran Dimulai

Bermain peran menjadi lebih kompleks dan imajinatif.

Yang mungkin Anda lihat:

  • Memerankan rutinitas sehari-hari, seperti memasak, berbelanja, atau pergi ke sekolah
  • Memberi peran (“Kamu jadi bayinya, aku jadi mamanya”)
  • Menggunakan benda pengganti (balok menjadi telepon, tongkat menjadi tongkat sihir)
  • Menyusun urutan tindakan (memasak → menyajikan → makan → membereskan)

D. Usia 3–4 Tahun: Imajinasi Semakin Berkembang

Kreativitas anak meledak di usia ini, dan bermain peran menjadi lebih kaya serta bersifat sosial.

Anak akan:

  • Menciptakan alur cerita yang lebih rumit
  • Bermain pura-pura dengan teman sebaya, bukan hanya dengan orang dewasa
  • Menambahkan unsur fantasi seperti naga, superhero, dan kekuatan magis
  • Meniru profesi di kehidupan nyata seperti pemadam kebakaran, dokter, koki, atau pilot
  • Menggunakan ekspresi emosi saat bermain

E. Usia 4–5 Tahun: Bermain Peran Tingkat Lanjut

Pada usia 4–5 tahun, bermain peran hampir menyerupai pertunjukan teater.

Anda akan melihat:

  • Alur cerita dan karakter yang berkembang dengan baik
  • Lebih banyak negosiasi dan perencanaan bersama teman bermain
  • Ekspresi emosi yang lebih kuat
  • Aturan dan logika yang mulai dimasukkan ke dalam cerita
  • Properti buatan sendiri (menggambar “telepon” atau membangun istana dari kardus)

Cara Orang Tua Mendukung Kegiatan Bermain Peran

Mendukung bermain peran tidak harus dengan membeli mainan mahal atau membuat ruang bermain yang sempurna ala Pinterest. Anak secara alami memiliki imajinasi yang kuat. Contohnya mereka bisa mengubah sendok menjadi tongkat sihir atau kotak kardus menjadi pesawat luar angkasa tanpa usaha berlebih. 

Berikut beberapa cara seru bagi orang tua untuk menumbuhkan rasa bermain peran di rumah:

1. Ikuti Arahan Anak

Salah satu cara terpenting untuk mendukung bermain peran adalah membiarkan anak memimpin jalannya cerita. Biarkan mereka menentukan karakter apa yang akan kamu perankan, bagaimana alur ceritanya, dan ke mana petualangan akan berlanjut.

Jika anak berkata, “Pisang ini adalah dokter bayinya dan dia akan menyembuhkan jari kakimu yang sakit,” ikuti saja—meskipun terdengar sama sekali tidak masuk akal. Anak tidak sedang mencoba meniru dunia nyata secara persis, melainkan bereksperimen dengan ide, menguji kemungkinan, dan membangun kepercayaan diri kreatif.

Dengan mengikuti arahan mereka, kamu menunjukkan bahwa imajinasi anak itu penting. Hal ini meningkatkan rasa percaya diri, mendorong kreativitas, dan mendukung kemampuan mengambil keputusan secara mandiri. Semakin sering ide mereka didukung, semakin imajinatif dan ekspresif pula anak.

2. Sediakan Mainan Open-Ended

Kamu tidak membutuhkan mainan yang berkedip, bernyanyi, atau berbicara. Mainan terbaik untuk bermain peran justru yang paling sederhana, karena memberikan ruang lebih luas bagi imajinasi. Mainan open-ended memungkinkan anak menentukan sendiri cara memainkannya, tanpa dibatasi satu fungsi saja.

Beberapa contoh benda open-ended yang sangat mendukungnya:

  • Balok
  • Boneka dan figur mini
  • Boneka tangan
  • Set dapur mainan
  • Makanan mainan
  • Kostum atau baju bermain peran
  • Boneka
  • Kotak kosong berbagai ukuran
  • Syal, kain, dan selimut
  • Benda rumah tangga yang aman seperti sendok kayu, mangkuk plastik, atau dompet lama

3. Ajukan Pertanyaan Terbuka

Salah satu cara termudah untuk mendorong bermain peran yang lebih mendalam adalah dengan mengajukan pertanyaan terbuka—pertanyaan yang tidak memiliki jawaban benar atau salah.

Coba ajukan pertanyaan seperti:

  • “Terus, apa yang terjadi selanjutnya?”
  • “Hari ini kamu berpura-pura jadi siapa?”
  • “Bagaimana cara superheromu menyelamatkan dunia?”
  • “Kenapa boneka beruangnya sedih?”
  • “Hari ini kita mau masak apa?”

Pertanyaan-pertanyaan ini membantu anak melatih kemampuan berpikir kritis, mengambil keputusan, dan berkreasi. Selain itu, perkembangan bahasa juga meningkat karena anak terdorong untuk menjelaskan ide mereka dengan lebih detail.

Ingat untuk tidak mengajukan terlalu banyak pertanyaan sekaligus. Sisipkan pertanyaan secara alami agar mendukung cerita tanpa mengganggu alur bermain.

4. Ikut Bermain (Tapi Jangan Mengambil Alih!)

Anak-anak sangat senang ketika orang dewasa ikut masuk ke dunia imajinasi mereka. Entah kamu berpura-pura menjadi pelanggan di restoran mereka, pasien di rumah sakit mainan, atau peri yang berkunjung ke hutan ajaib, kehadiranmu membuat pengalaman bermain jadi lebih seru dan bermakna.

Namun, ada satu aturan emas: ikut bermain, tapi jangan mengambil alih. Biarkan anak memimpin permainan, membuat aturan, dan mengarahkan cerita. Jika orang tua terlalu mengendalikan, keseruan bermain bisa berkurang.

5. Ciptakan Ruang yang Ramah untuk Bermain

Sudut kecil atau pengaturan sederhana saja sudah cukup untuk membuat bermain peran terasa istimewa. Area yang nyaman, mudah dijangkau, dan aman dapat memicu berjam-jam permainan imajinatif.

Beberapa ide yang bisa dibuat di rumah:

  • “Sudut dapur” dengan kompor mainan atau panci dan wajan sederhana
  • “Tenda membaca” dari selimut dan bantal
  • “Area kostum” berisi baju bermain peran, syal, topi, dan pakaian lama
  • “Zona membangun” dengan balok, kardus, dan mainan konstruksi

Area ini tidak harus besar atau permanen. Yang terpenting, anak tahu di mana menemukan perlengkapannya dan merasa bebas menggunakannya kapan saja.

6. Batasi Waktu Layar (Screen Time)

Layar memang menyenangkan, tetapi juga menyajikan cerita, karakter, dan visual yang sudah jadi—hal ini bisa mengurangi kebutuhan anak untuk menciptakan cerita mereka sendiri. Jika anak terlalu sering menonton layar atau menggunakan tablet, mereka cenderung menjadi penikmat pasif, bukan pencipta aktif.

Dengan menjaga screen time tetap seimbang, kamu memberi anak lebih banyak kesempatan untuk berkreasi, berimajinasi, dan membangun cerita mereka sendiri. Bermain peran akan berkembang optimal saat anak memiliki ruang untuk berpikir bebas dan mencari tahu tanpa gangguan.

Pilih Prasekolah yang Tepat!

Bermain peran membantu anak berpikir kreatif, memahami emosi, berkomunikasi dengan lebih baik, serta menghadapi dunia dengan penuh percaya diri. Jika Anda sedang mencari pendidikan anak usia dini terbaik untuk mendukung berbagai tahapan perkembangan ini, pertimbangkan Program Prasekolah & Taman Kanak-kanak di Rockstar Academy.

Hanya di Rockstar Academy, anak Anda dapat merasakan kombinasi lengkap antara akademik, kegiatan fisik, serta berbagai acara dan kompetisi seru—termasuk kesempatan berpartisipasi dalam Elite Championships—yang dirancang sesuai dengan usia, tingkat kemampuan, dan minat anak.

Pengalaman-pengalaman ini membantu membangun fondasi penting bagi tumbuh kembang anak secara akademis, sosial, dan emosional. Dan jika Anda ingin mencoba langsung pengalamannya, Rockstar Academy juga menyediakan kelas uji coba gratis sebelum pendaftaran. Ayo bergabung bersama kami hari ini!

FAQ

Pada usia berapa anak bermain peran mulai muncul?

Anak bermain peran biasanya mulai terlihat pada usia sekitar 12–18 bulan, saat anak mulai meniru kegiatan sehari-hari. Permainan ini akan berkembang menjadi lebih kompleks pada usia 2–5 tahun.

Bagaimana jika anak saya terlihat tidak tertarik dengan bermain peran?

Setiap anak itu unik. Ada anak yang lebih menyukai permainan fisik, puzzle, atau kegiatan seni. Cobalah memperkenalkan perlengkapan bermain peran sederhana seperti boneka atau benda rumah tangga, ikut bermain secara perlahan, dan beri waktu. Hindari memaksa, karena minat bermain akan tumbuh dengan sendirinya.