Parenting adalah perjalanan rollercoaster penuh tawa, kejutan, dan kadang-kadang ledakan kecil emosi di lorong supermarket. Setiap orang tua ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik, penuh rasa hormat, dan bertanggung jawab.
Namun mengajarkan perilaku positif tidak selalu mudah. Mari kita telusuri apa itu perilaku positif sebenarnya dan bagaimana Anda bisa membantu anak membangun kebiasaan yang membentuk kehidupan mereka.
Perilaku positif lebih dari sekadar “bertingkah baik.” Ini tentang sikap dan tindakan yang mencerminkan kebaikan, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengendalian diri. Pikirkan tentang pilihan sehari-hari anak—seperti mengucapkan “tolong” dan “terima kasih,” membantu saudara merapikan mainan, berbagi mainan, atau meminta bantuan dengan tenang alih-alih berteriak.
Contoh perilaku positif antara lain:
Anak tidak tiba-tiba tahu cara bersikap baik atau bertanggung jawab, tapi karena perilaku positif-lah mereka bisa berkembang langkah demi langkah dan berbeda pada tiap usia.
Setiap tahap punya tantangan dan keberhasilan masing-masing. Kuncinya adalah membimbing, menjadi contoh, dan merayakan kemajuan daripada berharap perilaku sempurna.
Dorongan memberi anak energi dan motivasi untuk terus mencoba, bahkan ketika belajar hal baru terasa sulit. Saat anak merasa diperhatikan dan dihargai, mereka cenderung mengulang perilaku positif itu lagi dan lagi.
Kabar baiknya? Anda tidak perlu alat mewah atau metode rumit. Aksi kecil sehari-hari bisa membawa perubahan besar. Mari kita uraikan langkah demi langkah.
Anak-anak adalah peniru terbaik yang pernah ada. Mereka menyerap cara Anda berbicara, bereaksi, dan memperlakukan orang lain. Jika Anda ingin anak berbicara sopan, mengendalikan emosi dengan tenang, atau menunjukkan kebaikan, langkah pertama adalah menunjukkan perilaku itu sendiri.
Misalnya, alih-alih membunyikan klakson dengan marah di lalu lintas, Anda bisa berkata, “Pengemudinya mungkin tidak sengaja, aku akan tetap tenang dan beri mereka ruang.”
Anak Anda pun belajar bahwa kesabaran lebih kuat daripada amarah. Saat Anda menahan pintu untuk orang lain atau mengucapkan terima kasih kepada kasir, anak Anda melihat rasa hormat dalam tindakan nyata.
Anak-anak bersinar ketika mereka mendengar pujian, tapi cara Anda memuji sangat berpengaruh. Jika Anda hanya memuji hasil (“Kamu dapat nilai A!”), anak mungkin merasa harus selalu sukses.
Tapi jika Anda memuji usaha (“Mama suka sekali kamu belajar dengan tekun untuk ujian itu”), mereka belajar bahwa kerja keras dan ketekunan sama pentingnya dengan hasil akhir.
Jenis pujian ini membantu anak membangun ketangguhan mental. Ketika mereka tahu usaha dihargai, mereka tidak mudah menyerah saat menghadapi tantangan.
Penguatan positif adalah seperti memberi “bonus” untuk perilaku baik dan tidak harus berupa hadiah mahal atau permen manis! Hal-hal sederhana seperti tos, pelukan besar, atau cerita tambahan sebelum tidur bisa jadi hadiah yang sangat berarti.
Untuk anak kecil, tabel stiker bisa sangat efektif. Setiap kali mereka menyelesaikan tugas (misalnya menyikat gigi tanpa rewel), mereka mendapat stiker. Setelah tabelnya penuh, rayakan dengan kegiatan menyenangkan seperti piknik di taman.
Aturan yang terlalu umum bisa membingungkan anak. Ucapan seperti “Bersikap baik, ya” bisa membuat mereka bingung: Apakah aku tidak boleh berlari? Boleh bicara keras?
Berikan instruksi yang spesifik dan jelas, seperti:
Dengan begitu, anak tahu apa yang diharapkan dari mereka dan merasa lebih mudah untuk mengikutinya.
Konsistensi adalah kunci yang menyatukan semua aturan. Bayangkan jika hari ini jam tidur pukul 8 malam, besok pukul 10 malam, dan lusa tidak tidur sama sekali—anak akan bingung dan merasa tidak ada kepastian.
Dengan menjaga konsistensi, Anda menciptakan rasa aman dan stabil. Anak merasa tenang karena tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Konsistensi juga mengajarkan bahwa batasan itu nyata dan tidak bisa ditawar.
Anak suka merasa punya kendali. Memberikan pilihan membuat mereka merasa mandiri, tapi tetap dalam batas yang Anda tentukan. Kuncinya, beri dua pilihan yang sama-sama bisa diterima, agar Anda tetap memegang kendali.
Contohnya:
Kedua jawabannya tetap menguntungkan Anda, tapi anak merasa punya kebebasan. Cara ini membantu mereka belajar mengambil keputusan dan mengurangi konflik kecil sehari-hari.
Sering kali kita menunggu momen besar untuk dirayakan, padahal keberhasilan kecil juga penting! Misalnya berbagi krayon, mengucapkan terima kasih tanpa diingatkan, atau membantu membersihkan tumpahan minuman—semua layak diapresiasi.
Ketika Anda berkata, “Wah, Mama lihat kamu membukakan pintu untuk Nenek, itu sangat baik,” anak akan merasa bangga dan ingin mengulanginya lagi.
Merayakan hal-hal kecil mengajarkan bahwa kebaikan dan tanggung jawab adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya hal istimewa sesekali.
Mengajarkan perilaku positif bukan sesuatu yang bisa dilakukan dalam sekali ajar. Dibutuhkan latihan, kesabaran, dan dukungan penuh dari Anda sepanjang waktu. Berikut beberapa cara yang bisa Anda coba untuk membantu anak belajar berperilaku positif.
Anak-anak belajar paling baik ketika mereka sedang bersenang-senang, itulah mengapa cerita dan permainan menjadi alat pengajaran yang sangat efektif. Membacakan buku tentang kebaikan, kejujuran, atau berbagi dapat memicu percakapan bermakna dan membantu anak membayangkan bagaimana mereka akan bertindak dalam situasi serupa.
Bahkan permainan papan sederhana bisa mengajarkan tentang bergiliran, keadilan, dan sportivitas. Dengan menggabungkan pelajaran ke dalam kegiatan yang menyenangkan, anak-anak menyerap perilaku positif secara alami sambil menikmati proses belajar.
Konflik pasti terjadi, baik itu saudara yang berebut mainan atau perbedaan pendapat dengan teman. Alih-alih langsung turun tangan menyelesaikannya, bimbing anak untuk mencari solusi sendiri.
Misalnya, jika dua anak menginginkan mainan yang sama, Anda bisa bertanya, “Kalian berdua ingin mainan ini, bagaimana caranya supaya kalian berdua bisa senang?”
Pertanyaan seperti ini mendorong mereka untuk berpikir, bernegosiasi, dan berkompromi—sekaligus melatih empati dan kemampuan berpikir kritis. Seiring waktu, mereka akan mulai menyelesaikan konflik sendiri dengan lebih percaya diri dan bertanggung jawab.
Pekerjaan rumah bisa menjadi cara efektif untuk mengajarkan tanggung jawab dan kemandirian. Kuncinya adalah memberikan tugas yang sesuai dengan usia anak. Balita bisa membantu dengan merapikan mainan ke dalam kotak, sementara anak prasekolah bisa menyiram tanaman atau memberi makan hewan peliharaan.
Dengan cara ini, anak belajar bahwa setiap kontribusi mereka berarti dan dihargai.
Empati adalah inti dari kebaikan, dan anak-anak bisa mempelajarinya melalui bimbingan orang tua. Ajukan pertanyaan yang membuat mereka berpikir tentang perasaan orang lain, seperti, “Menurutmu bagaimana perasaan temanmu ketika kamu membagikan camilanmu?”
Pertanyaan sederhana seperti ini membantu anak menghubungkan tindakan mereka dengan perasaan orang di sekitarnya. Dari waktu ke waktu, hal ini membentuk kepedulian dan membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang penuh kasih.
Konsekuensi alami bisa menjadi guru yang efektif jika diterapkan dengan hati-hati. Jika anak lupa membawa PR, mereka akan menghadapi reaksi gurunya di sekolah. Jika mereka meninggalkan mainan di luar, mainan itu mungkin rusak.
Pengalaman nyata seperti ini mengajarkan tanggung jawab jauh lebih efektif daripada ceramah panjang.
Anak-anak berkembang pesat ketika mereka merasa mampu. Berikan mereka kesempatan untuk berhasil dalam hal-hal kecil setiap hari. Misalnya, biarkan mereka membantu mengaduk adonan pancake atau menata tisu di meja makan.
Dukungan sederhana seperti ini membangun rasa percaya diri dan memotivasi mereka untuk terus mencoba. Semakin sering mereka merasakan keberhasilan, semakin besar kemungkinan mereka akan mengulang perilaku positif tersebut.
Terakhir, jangan remehkan sisi humor. Hidup bersama anak-anak tidak harus selalu serius. Terkadang, sedikit kelucuan justru membantu mereka lebih kooperatif.
Anda bisa menyanyikan lagu lucu saat menggosok gigi atau mengenakan pakaian. Humor dapat mencairkan suasana, mengurangi stres, dan membuat perilaku positif terasa menyenangkan alih-alih seperti kewajiban.
Mendidik anak agar memiliki perilaku positif adalah perjalanan yang menyenangkan sekaligus berharga karena membentuk siapa mereka di masa depan. Tapi ingat, Anda tidak harus melakukannya sendirian.
Untuk membantu Anda, mendaftarkan anak di Prasekolah & Taman Kanak-kanak Rockstar Academy adalah langkah awal yang sempurna. Sebagai Akademi Olahraga dan Seni Pertunjukan Terbaik, anak Anda tidak hanya akan merasakan keseruan belajar di dalam kelas, tetapi juga dapat menjelajahi berbagai kegiatan fisik, acara, dan kompetisi yang dirancang sesuai usia, tingkat kemampuan, dan minat.
Program Prasekolah & Taman Kanak-kanak kami juga memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk berpartisipasi dalam Elite Championships, agar mereka bisa merasakan semangat kompetisi sejak usia dini.
Kesempatan seperti ini menjadi langkah penting bagi anak untuk berkembang secara akademis, sosial, dan emosional. Hal yang membuat Rockstar Academy semakin istimewa adalah bagaimana pembelajaran akademik dan kegiatan fisik dipadukan dengan sangat harmonis.
Dan yang terbaik? Anda bisa mencoba kelas uji coba gratis sebelum mendaftar, sehingga Anda dan anak bisa langsung merasakan semangat Rockstar. Dengan dukungan dan lingkungan yang tepat, mengajarkan perilaku positif akan menjadi perjalanan yang alami dan menyenangkan untuk masa depan anak Anda.
Pada usia berapa sebaiknya saya mulai mengajarkan perilaku positif?
Anda bisa mulai sejak usia balita! Bahkan anak usia 1 tahun sudah bisa belajar kebiasaan sederhana seperti melambaikan tangan untuk pamit atau menggunakan tangan dengan lembut. Semakin dini Anda memulai, semakin mudah untuk membangun kebiasaan tersebut ke tahap berikutnya.
Bagaimana jika anak saya tidak mau mendengarkan?
Jangan khawatir, ini hal yang wajar. Tetap tenang, konsisten, dan jelaskan ekspektasi Anda dengan jelas. Kadang anak membutuhkan waktu (dan latihan berulang) untuk benar-benar memahami dan menindaklanjutinya.
Bagaimana cara mendisiplinkan anak tanpa bersikap keras?
Fokuslah pada pengajaran, bukan hukuman. Gunakan kata-kata memotivasi, pengetahuan tentang konsekuensi, dan arahan lembut sebagai gantinya, bukan dengan berteriak atau memukul.