Bayangkan jika anak Anda percaya bahwa kesalahan bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, dan setiap kalimat “Aku tidak bisa” bisa berubah menjadi “Aku belum bisa.” Inilah keajaiban dari growth mindset.
Kabar baiknya, Anda tidak memerlukan alat canggih, kelas mahal, atau teori psikologi yang rumit untuk membangunnya. Dengan beberapa perubahan sederhana dalam cara kita berbicara, bermain, dan merespons tantangan, kita dapat membantu anak tumbuh menjadi pembelajar yang percaya diri dan gemar mencoba, belajar, serta berkembang. Yuk, kita bahas cara mengembangkannya di sini!
Growth mindset adalah keyakinan bahwa perkembangan kognitif anak, kemampuan, kecerdasan, dan keterampilan anak tidak bersifat tetap sejak lahir, melainkan dapat tumbuh dan meningkat seiring waktu.
Alih-alih berpikir bahwa mereka “pandai” atau “tidak pandai” dalam sesuatu, anak dengan growth mindset memahami bahwa belajar adalah sebuah proses.
Dalam kehidupan sehari-hari, growth mindset terlihat dari cara anak menghadapi tantangan. Saat sesuatu terasa sulit, mereka tidak langsung menyerah atau memberi label pada diri sendiri sebagai tidak mampu.
Kata “belum” mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya sangat besar terhadap cara anak memandang proses belajar. Ketika seorang anak berkata, “Aku tidak bisa,” kalimat itu terdengar final dan tidak bisa diubah.
Dengan menambahkan kata “belum,” pesan tersebut berubah dari putus asa menjadi penuh harapan. Kalimat “Aku belum bisa” mengingatkan anak bahwa proses belajar masih berjalan dan bahwa kemajuan bisa dicapai dengan waktu dan usaha.
Penggunaan kata “belum” membantu anak memahami bahwa keterampilan tidak muncul secara instan. Membaca, menulis, berenang, menggambar, atau menyelesaikan soal matematika semuanya membutuhkan latihan. Saat anak mendengar kata “belum,” mereka mulai melihat tantangan sebagai sesuatu yang sementara, bukan permanen.
Kata “belum” juga mengurangi rasa takut dan tekanan. Banyak anak berhenti mencoba karena takut salah atau merasa tidak cukup pintar. Dengan memperkenalkan kata “belum,” orang dewasa menyampaikan pesan yang jelas: tidak apa-apa jika saat ini belum tahu segalanya.
Yang terpenting adalah terus mencoba. Hal ini menciptakan ruang emosional yang lebih aman, di mana anak merasa nyaman untuk menjelajahi, bereksperimen, dan melakukan kesalahan.
Perbedaan antara growth mindset dan fixed mindset terletak pada cara anak memandang proses belajar dan kemampuan diri. Keyakinan ini sangat mempengaruhi cara mereka menghadapi tantangan, usaha, kesalahan, dan keberhasilan.
Anak dengan fixed mindset percaya bahwa kecerdasan dan bakat adalah sesuatu yang dibawa sejak lahir. Mereka berpikir bahwa seseorang sudah ditakdirkan pandai atau tidak pandai dalam suatu hal, dan hampir tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengubahnya.
Karena keyakinan ini, mereka sering memberi label pada diri sendiri sejak dini, seperti berkata, “Aku tidak pintar,” atau “Aku memang tidak jago olahraga.”
Sebaliknya, anak dengan growth mindset percaya bahwa kemampuan dapat dikembangkan. Mereka memahami bahwa belajar terjadi melalui latihan, usaha, dan waktu.
Alih-alih memberi label pada diri sendiri, mereka melihat keterampilan sebagai sesuatu yang masih terus dipelajari. Keyakinan ini membuat mereka lebih terbuka terhadap proses belajar dan perbaikan.
Fixed mindset sering membuat anak menghindari tantangan. Ketika sesuatu terasa sulit, mereka bisa berhenti mencoba karena menganggap kesulitan sebagai tanda bahwa mereka tidak memiliki kemampuan. Tugas yang sulit terasa mengancam, dan menghindarinya dianggap lebih aman.
Anak dengan growth mindset memandang tantangan secara berbeda. Mereka memahami bahwa kesulitan adalah bagian normal dari proses belajar. Alih-alih menghindari tantangan, mereka lebih bersedia mencoba, meskipun pada awalnya mengalami kesulitan.
Bagi anak dengan fixed mindset, kesalahan terasa memalukan dan mengecilkan hati. Melakukan kesalahan bisa dianggap sebagai bukti bahwa mereka “tidak cukup baik.” Akibatnya, mereka mungkin menyembunyikan kesalahan, merasa malu, atau cepat menyerah.
Anak dengan growth mindset memandang kesalahan sebagai umpan balik yang berharga. Mereka memahami bahwa kesalahan membantu mereka mengetahui apa yang tidak berhasil dan mengarahkan pada strategi yang lebih baik.
Dalam fixed mindset, usaha sering dianggap sebagai tanda yang buruk. Beberapa anak berpikir, “Kalau aku benar-benar pintar, ini seharusnya tidak sulit.” Akibatnya, mereka bisa menghindari usaha demi melindungi citra diri.
Growth mindset mengajarkan anak bahwa usaha itu perlu dan bermakna. Mereka belajar bahwa kerja keras adalah cara keterampilan berkembang. Usaha menjadi bukti bahwa proses belajar sedang berlangsung.
Anak dengan fixed mindset bisa merasa terancam ketika orang lain berhasil. Mereka mungkin sering membandingkan diri dengan orang lain dan merasa iri atau berkecil hati saat orang lain tampil lebih baik. Keberhasilan orang lain bisa membuat mereka merasa kurang mampu.
Sebaliknya, anak dengan growth mindset cenderung merasa terinspirasi oleh keberhasilan orang lain. Alih-alih merasa terancam, mereka berpikir, “Kalau dia bisa, mungkin aku juga bisa belajar.” Mereka melihat keberhasilan sebagai sesuatu yang bisa dibagikan dan dipelajari.
Percakapan diri pada fixed mindset biasanya terdengar negatif dan final, seperti:
Sementara itu, percakapan diri pada growth mindset lebih luwes dan memberi semangat:
Dialog batin ini berperan besar dalam cara anak merespons tantangan dan kegagalan.
Seiring waktu, fixed mindset dapat membatasi potensi anak. Menghindari tantangan dan takut melakukan kesalahan bisa menyebabkan perkembangan yang lebih lambat, kepercayaan diri yang rendah, serta kecemasan dalam belajar.
Sebaliknya, growth mindset mendukung keberhasilan jangka panjang. Anak menjadi lebih tangguh, percaya diri, dan termotivasi. Mereka belajar bagaimana cara belajar—sebuah keterampilan penting yang bermanfaat tidak hanya di sekolah, tetapi juga sepanjang hidup mereka.
Membangun growth mindset pada anak tidak cukup hanya dengan pengingat atau kata-kata motivasi. Kegiatan-kegiatan berikut dirancang agar anak dapat mengalami langsung growth mindset dalam praktik, bukan sekadar mendengarnya.

Kegiatan refleksi membantu anak fokus pada perjalanan belajar, bukan hanya pada hasil akhir. Setelah menyelesaikan suatu kegiatan, anak diajak untuk memikirkan apa yang mereka alami selama proses tersebut.
Dengan mengajukan pertanyaan seperti apa yang terasa menantang, apa yang membantu mereka menjadi lebih baik, atau apa yang akan mereka lakukan secara berbeda di lain waktu, anak mulai memahami bahwa belajar adalah sebuah proses. Hal ini menggeser pola pikir dari menyalahkan diri sendiri menjadi mencari solusi.

Kegiatan pemecahan masalah seperti puzzle, permainan membangun, dan tantangan strategi secara alami mendorong ketekunan. Kegiatan-kegiatan ini sering kali mengharuskan anak mencoba beberapa cara sebelum menemukan solusi.
Saat anak bereksperimen, gagal, lalu menyesuaikan strategi, mereka belajar bahwa kesalahan adalah bagian dari proses menemukan jawaban. Ini memperkuat pemahaman bahwa usaha dan kemampuan adaptasi akan membawa pada peningkatan.

Mencoba sesuatu yang baru—baik itu olahraga, teknik seni, atau keterampilan hidup sederhana—menempatkan anak pada posisi sebagai pemula. Pengalaman ini sangat berharga karena menormalkan rasa kesulitan.
Ketika anak menyadari bahwa tidak ada yang langsung menjadi ahli sejak awal, mereka akan lebih nyaman dengan ketidaksempurnaan. Mencoba kegiatan baru membantu anak memahami bahwa keterampilan berkembang melalui latihan dan kesabaran.

Kegiatan yang ramah terhadap kesalahan menciptakan ruang aman di mana anak diperbolehkan—bahkan didorong—untuk melakukan kesalahan. Kegiatan seperti membuat draf awal, sesi latihan, dan eksperimen membantu anak melihat kesalahan sebagai bagian dari proses belajar, bukan sesuatu yang harus dihindari.
Ketika kesalahan dianggap wajar, anak akan lebih berani mengambil risiko dan menjadi lebih kreatif. Mereka belajar bahwa kesalahan memberikan informasi yang berguna dan membantu mereka berkembang.
Lingkungan seperti ini mengurangi kecemasan dan membangun ketangguhan, dua hal yang sangat penting untuk menumbuhkan growth mindset yang kuat.

Cerita merupakan cara yang sangat efektif untuk mengajarkan pola pikir karena anak mudah terhubung dengan tokoh di dalamnya. Saat anak membaca atau menonton cerita tentang karakter yang berjuang, berlatih, dan akhirnya berkembang, mereka dapat melihat growth mindset dalam praktik nyata.
Mendiskusikan cerita-cerita tersebut membantu anak memahami bahwa keberhasilan sering kali datang setelah usaha dan ketekunan. Mereka belajar bahwa tantangan adalah bagian normal dari setiap perjalanan, dan bahwa peningkatan membutuhkan waktu.

Menulis jurnal dan menggambar memungkinkan anak mengekspresikan pikiran, perasaan, dan pengalaman belajar mereka secara personal. Menulis atau menggambar tentang tantangan, kesalahan, dan kemajuan membantu anak merefleksikan proses perkembangan diri.
Melalui kegiatan ini, anak menjadi lebih sadar akan cara mereka belajar dan berkembang. Mereka mulai melihat pola antara usaha dan kemajuan, yang memperkuat keyakinan bahwa pertumbuhan itu mungkin terjadi.
Membantu anak mengembangkan growth mindset adalah sebuah perjalanan yang dimulai dari perubahan kecil namun konsisten. Jika Anda merasa membutuhkan dukungan tambahan dan sedang mencari pendidikan anak usia dini terbaik, Program Prasekolah & Taman Kanak-kanak di Rockstar Academy bisa menjadi langkah awal yang tepat.
Hanya di Rockstar Academy, anak dapat menikmati pengalaman belajar yang lengkap dengan menggabungkan program prasekolah dan taman kanak-kanak bersama berbagai kegiatan Akademi Olahraga & Seni Pertunjukkan, acara-acara seru, serta kompetisi yang dirancang sesuai usia, tingkat kemampuan, dan minat anak—termasuk kesempatan untuk berpartisipasi dalam Elite Championships.
Melalui keseimbangan antara pembelajaran akademik dan kelas kegiatan fisik, anak belajar kerja sama tim, ketangguhan, dan keterampilan hidup penting dalam lingkungan yang menyenangkan dan suportif.
Dengan bimbingan guru-guru berpengalaman, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih adaptif, percaya diri, dan siap menghadapi tantangan baru. Lebih serunya lagi, Rockstar Academy menawarkan kelas uji coba gratis, sehingga Anda dan anak dapat merasakan langsung perjalanan belajarnya sebelum mendaftar!
Pada usia berapa anak bisa mulai belajar growth mindset?
Sejak usia prasekolah! Bahkan balita pun sudah bisa belajar bahwa mencoba lagi adalah bagian dari proses belajar.
Apakah anak bisa memiliki growth mindset dan fixed mindset sekaligus?
Bisa. Sebagian besar anak (bahkan orang dewasa!) memiliki kombinasi keduanya. Tujuannya adalah memperkuat growth mindset secara bertahap.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melihat perubahan?
Dengan penggunaan bahasa yang konsisten dan dorongan positif, perubahan kecil bisa terlihat dalam hitungan minggu. Namun, pengembangan pola pikir adalah perjalanan jangka panjang.