Anak-anak itu penuh rasa ingin tahu dan imajinatif, namun juga bisa tidak terduga, emosional, dan masih belajar bagaimana menghadapi perasaan besar di dalam tubuh yang masih kecil.
Perilaku agresif bisa membingungkan bagi orang tua, tetapi kabar baiknya: sebagian besar waktu, perilaku ini tergolong normal, dapat dikelola, dan sangat bisa diperbaiki dengan alat serta pemahaman yang tepat.
Jadi, mari kita bahas apa sebenarnya arti agresif pada anak, mengapa hal itu terjadi, dan bagaimana Anda bisa mendukung anak Anda melewatinya!
Perilaku agresif adalah tindakan yang dapat melukai orang lain secara fisik, emosional, atau keduanya. Bentuknya bisa berupa perilaku kekerasan seperti memukul, menggigit, mendorong, berteriak, melempar benda, tantrum, memanggil dengan sebutan buruk, hingga perilaku yang lebih halus seperti mengejek atau mengancam. [American Academy of Child and Adolescent Psychiatry Contact, 2017]
Namun, agresif tidak otomatis berarti anak itu “nakal” atau “buruk.” Ini hanya menandakan bahwa mereka mengekspresikan emosi dengan cara yang belum mereka pelajari untuk dikelola. Anggap agresif sebagai bendera merah besar yang melambai-lambai untuk mengatakan, “Aku kewalahan dan butuh bantuan!”
Pada masa kanak-kanak awal, agresif sering menjadi cara berkomunikasi. Balita yang belum punya kata-kata untuk mengatakan “Aku frustasi” mungkin menggunakan tangannya. Anak prasekolah yang merasa cemburu bisa mendorong.
Anak usia sekolah yang kesulitan dengan aturan sosial mungkin meluapkan emosi secara verbal. Ini lebih tentang keterampilan yang belum terbentuk daripada niat buruk.
Perilaku agresif bisa muncul surprisingly dini, bahkan sebelum anak berusia satu tahun. Namun, bentuk agresifnya berkembang sesuai usia dan tahap perkembangan.
Mungkin terdengar aneh menganggap bayi agresif, tetapi perilaku seperti menarik rambut, memukul saat menyusu, atau melempar benda bisa terjadi. Ini bukan agresif sesungguhnya, melainkan penjelajahan sensorik atau respons terhadap rasa tidak nyaman.
Selamat datang di era klasik memukul, menggigit, berteriak, merebut mainan, dan tantrum hebat di lantai. Balita belum memiliki kemampuan regulasi emosi dan bahasa, jadi tubuh merekalah yang “berbicara.”
Pada usia ini, anak mulai belajar aturan sosial, berbagi, dan empati, tetapi masih sering kesulitan. Agresif bisa dipicu oleh rasa cemburu, frustrasi, overstimulasi, atau kesulitan memahami rutinitas.
Agresif menjadi lebih disengaja dan verbal. Anak bisa berdebat, mengejek, melakukan perundungan, merusak barang, atau meluapkan emosi saat konflik. Pada tahap ini, perilaku agresif sering mencerminkan stres emosional, tekanan akademik, atau tantangan sosial.
Kelompok ini dapat menunjukkan agresif yang lebih rumit dan dalam, sering kali terkait dengan pencarian jati diri, dinamika pertemanan, atau perubahan hormonal.
Agresif pada anak tidak bersifat satu bentuk saja. Perilaku ini muncul dalam berbagai jenis dan tingkat:
Jenis ini lebih sering terjadi pada balita dan anak usia prasekolah awal.
Biasanya mulai muncul pada usia prasekolah dan semakin meningkat pada anak usia sekolah.
Umum terjadi pada anak yang lebih besar dan sudah memahami dinamika sosial.
Agresif pada anak tidak muncul begitu saja. Selalu ada alasan di balik perilaku tersebut. Terkadang penyebabnya jelas, namun seringkali tersembunyi di balik lapisan emosi yang belum mampu anak ungkapkan. Berikut beberapa penyebab yang paling umum:
Anak kecil merasakan emosi sekuat orang dewasa. Namun, mereka sering belum memiliki kosakata, kontrol diri, atau keterampilan emosional untuk mengekspresikannya dengan tepat.
Perilaku agresif bukanlah tanda nakal, melainkan cara anak mengekspresikan perasaan yang belum bisa disampaikan secara verbal.
Ketika anak mengalami kesulitan berbicara, berbahasa, atau berkomunikasi, rasa frustrasi mudah menumpuk. Jika mereka tidak bisa menjelaskan apa yang diinginkan atau dirasakan, perilaku fisik sering menjadi jalan keluarnya.
Contohnya, anak usia 3 tahun yang ingin camilan tambahan bisa tantrum karena menyusun kalimat “Aku mau lagi” terasa terlalu sulit.
Semakin terbatas kemampuan verbal anak, semakin besar kemungkinan mereka mengekspresikan diri lewat tindakan yang terkadang bersifat agresif.
Anak lebih mudah kewalahan dibanding orang dewasa. Otak mereka masih berkembang dalam mengelola rangsangan sensorik, perubahan, kebisingan, dan tuntutan. Saat semuanya terasa “terlalu banyak,” agresif bisa menjadi katup pelepas emosi yang cepat.
Tanda-tanda overstimulasi antara lain:
Anak membutuhkan perhatian agar merasa aman. Meskipun mereka lebih menyukai perhatian positif, perhatian negatif pun tetap “berhasil.” Jika anak merasa diabaikan atau kurang terhubung, mereka bisa menggunakan perilaku agresif sebagai cara pasti untuk mendapatkan reaksi orang dewasa.
Logika di kepala mereka sederhana: “Kalau aku melakukan ini, pasti ada yang memperhatikanku.”
Anak belajar dengan mengamati. Jika mereka sering melihat teriakan, reaksi keras, atau perilaku agresif di rumah, sekolah, atau bahkan dari media, mereka cenderung meniru apa yang mereka lihat.
Agresi bisa dipelajari dari:
Anak sering menunjukkan perilaku agresif saat merasa terancam, tergantikan, atau tidak aman terutama jika melibatkan saudara kandung.
Situasi pemicunya antara lain:
Beberapa anak memiliki kondisi yang membuat mereka lebih sulit mengatur emosi, memproses rangsangan sensorik, memahami isyarat sosial, atau tetap tenang dalam situasi penuh tekanan.
Perilaku agresif bisa berkaitan dengan:
Tantangan-tantangan ini memengaruhi cara anak menafsirkan dunia dan merespons rasa frustrasi.
Anak juga mengalami stres seperti orang dewasa—bahkan terkadang lebih intens karena mereka belum sepenuhnya memahami apa yang sedang terjadi.
Pemicu stres bisa meliputi:
Tidak semua perilaku agresif anak usia dini terlihat jelas. Berikut beberapa tanda yang perlu diperhatikan:
Perilaku agresif adalah hal yang hampir pasti muncul pada setiap anak di suatu waktu. Yang paling menentukan adalah bagaimana Anda merespons di saat itu. Berikut yang bisa Anda lakukan:
Saat perilaku agresif terjadi, emosi anak sedang memuncak. Jika Anda bereaksi dengan marah, berteriak, atau panik, adrenalin mereka justru meningkat dan situasi memburuk.
Jika agresif melibatkan memukul, menggigit, melempar benda, atau membahayakan secara fisik, prioritas utama adalah keamanan—bukan berbicara, mengajar, atau menjelaskan.
Yang bisa dilakukan:
Memvalidasi berarti mengakui emosinya, bukan membenarkan perilakunya. Saat anak merasa dipahami, mereka lebih cepat tenang dan tidak defensif.
Contoh:
Ini membantu anak belajar bahwa semua perasaan itu boleh, tetapi tidak semua perilaku bisa diterima.
Di momen agresif, anak tidak mampu memproses penjelasan panjang. Otak mereka sedang dalam mode bertahan hidup, jadi sampaikan koreksi secara singkat, tegas, namun tetap lembut.
Contoh kalimat singkat:
Yang tidak perlu dilakukan:
Anak tidak akan serta-merta berhenti bersikap agresif. Mereka membutuhkan alternatif tindakan yang menunjukkan cara lebih baik untuk mengekspresikan perasaan. Alih-alih hanya berkata “Jangan,” arahkan mereka pada “Lakukan ini saja.”
Perubahan kecil ini dapat mengubah momen agresif menjadi kesempatan berharga untuk membangun keterampilan mengelola emosi yang lebih sehat.
Calm-down spot adalah area “reset” yang tenang, tempat anak bisa pergi untuk menenangkan emosi yang besar. Area ini bisa diisi dengan bantal empuk, boneka favorit, buku yang menenangkan, selimut kecil, mainan sensorik, atau kartu bergambar berisi strategi menenangkan diri yang sederhana.
Jika anak menendang lantai saat tantrum, Anda bisa berkata, “Yuk, kita ke sudut tenang supaya tubuhmu bisa merasa lebih baik.” Dengan latihan yang konsisten, anak akan mulai menggunakan area ini secara mandiri untuk membantu dirinya menenangkan diri.
Setelah anak tenang, penting untuk kembali membangun kedekatan—ini membantu memulihkan rasa percaya dan mengajarkan pelajaran tanpa rasa malu. Anda bisa menawarkan pelukan, meyakinkan mereka, membicarakan secara singkat apa yang terjadi, dan mendiskusikan apa yang bisa dicoba lain kali.
Hal ini menunjukkan pada anak bahwa kesalahan tidak merusak hubungan dan bahwa Anda selalu ada untuk mendukung mereka.
Jika perilaku agresif menjadi:
Maka sudah saatnya mempertimbangkan bantuan dari psikolog anak, dokter anak, atau spesialis tumbuh kembang. Tidak ada yang perlu dimalukan dalam mencari bantuan. Dukungan yang tepat bisa membawa perubahan besar bagi Anda dan anak.
Memahami dan mengelola perilaku agresif pada anak membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan sistem dukungan yang tepat. Jika Anda mencari pendidikan anak usia dini terbaik untuk membantu anak berkembang secara emosional, sosial, dan akademis, pertimbangkan program Prasekolah & Taman Kanak-kanak di Rockstar Academy.
Hanya di Rockstar Academy, anak Anda dapat merasakan perpaduan kaya antara pembelajaran prasekolah, kegiatan fisik yang seru, serta berbagai acara dan kompetisi menyenangkan untuk semua usia, tingkat kemampuan, dan minat—termasuk partisipasi dalam Elite Championships.
Dengan bimbingan guru-guru berpengalaman, setiap pengalaman membantu anak menjadi lebih adaptif, percaya diri, dan mampu menghadapi tantangan. Dan yang terbaik? Anda bisa mencoba kelas uji coba gratis sebelum mendaftar, sehingga anak memiliki kesempatan sempurna untuk menjelajah, belajar, dan bersinar.
Apakah perilaku agresif normal pada anak kecil?
Ya. Balita dan anak prasekolah sering menunjukkan perilaku agresif karena mereka masih belajar mengelola emosi dan kemampuan berbahasa. Yang penting adalah seberapa sering dan seberapa intens perilaku tersebut terjadi.
Kapan saya perlu khawatir dengan agresi anak?
Jika perilaku anak sering menyakiti orang lain, terjadi setiap hari, semakin memburuk seiring bertambahnya usia, atau mengganggu kehidupan di rumah dan sekolah, sebaiknya segera mencari bantuan profesional.