Tips Mengasuh Anak

Mengapa Bermain Penting bagi Anak? Jelajahi Jenis, Tahapan, dan Ide Bermain

Mengapa Bermain Penting bagi Anak? Jelajahi Jenis, Tahapan, dan Ide Bermain
08 Sep 2025

Mari kita bahas sesuatu yang disukai setiap anak—bermain! Bermain bukan hanya sekadar waktu yang menyenangkan. Sebenarnya, bermain adalah alat yang sangat powerful yang membantu anak-anak tumbuh, belajar, dan menjadi siapa mereka seharusnya. Faktanya, para peneliti dan ahli perkembangan anak sepakat: bermain adalah salah satu bagian terpenting dari masa kanak-kanak.

Jadi, apa sebenarnya bermain itu? Mengapa begitu penting? Apa saja jenis-jenis bermain yang ada? Dan bagaimana bermain berkembang seiring pertumbuhan anak Anda? Mari kita bahas dan temukan semua manfaatnya bagi si kecil!

Apa Itu Bermain, Sebenarnya?

Pada dasarnya, bermain adalah kegiatan yang dipilih secara bebas, diarahkan secara pribadi, dan didorong oleh motivasi dari dalam. Dengan kata lain, bermain adalah sesuatu yang anak-anak pilih untuk dilakukan karena kesenangan melakukannya. 

Ini adalah cara mereka menjelajahi dunia, mengekspresikan diri, dan mencoba hal baru tanpa tekanan untuk “melakukannya dengan benar.”

Bisa berupa:

  • Fisik (lari, melompat, menari)
  • Imajinatif (berpura-pura menjadi bajak laut atau koki)
  • Konstruktif (membangun dengan balok atau LEGO)
  • Sosial (bermain rumah dengan saudara atau bermain kejar-kejaran dengan teman)

Bermain tidak memerlukan mainan mewah atau peralatan mahal asalkan didorong oleh rasa ingin tahu, imajinasi, dan kebebasan.

Teori Belajar Melalui Bermain

Bermain sebenarnya adalah platform pembelajaran yang sangat kuat. Banyak ahli perkembangan anak menjelaskan bahwa melalui bermain, anak menjelajahi ide, membangun keterampilan, dan memahami dunia di sekitar mereka. Berikut adalah beberapa teori paling berpengaruh yang menjelaskan mengapa bermain sangat penting untuk pembelajaran.

1. Teori Perkembangan Kognitif Piaget

Jean Piaget percaya bahwa anak belajar dengan mengamati dan menjelajahi lingkungan secara aktif.
Bermain adalah cara anak bereksperimen, memecahkan masalah, dan menemukan hal baru.

Bagaimana Bermain Membantu Belajar Menurut Piaget:

  • Tahap Sensori-Motor (0–2 tahun): Bayi belajar dengan menyentuh, mengguncang, menjatuhkan, dan memanipulasi benda.
  • Tahap Praoperasional (2–7 tahun): Bermain pura-pura membantu mereka mengembangkan kemampuan berpikir simbolik dan imajinasi.
  • Tahap Operasional Konkret (7–11 tahun): Permainan dengan aturan membantu mereka memahami logika dan konsep keadilan.

2. Teori Sosio-Kultural Vygotsky

Lev Vygotsky menekankan bahwa anak belajar melalui interaksi sosial.
Bermain menjadi sangat kuat ketika melibatkan bimbingan atau kolaborasi dengan orang lain.

Ide Utama Teori Ini:

  • Zona Perkembangan Proksimal (ZPD): Anak belajar paling baik ketika orang dewasa atau teman sebaya membantu mereka mencapai kemampuan sedikit di atas tingkat mereka saat ini.
  • Role-play: Bermain peran dapat membangun bahasa, kemampuan mengatur diri, dan pemahaman sosial.

3. Teori Perkembangan Psikososial Erikson

Erik Erikson percaya bahwa bermain membantu anak mengatasi tantangan emosional dan sosial pada setiap tahap perkembangan.

Contoh Tahapannya:

  • Autonomy vs. Shame (1–3 tahun): Bermain bebas membantu anak membangun rasa percaya diri dan kemandirian.
  • Initiative vs. Guilt (3–6 tahun): Bermain imajinatif memungkinkan anak mengambil inisiatif, membuat keputusan, dan mengekspresikan ide.
  • Industry vs. Inferiority (6–12 tahun): Permainan tim dan aktivitas terstruktur membantu membangun rasa kompetensi.

4. Teori Bermain Froebel

Friedrich Froebel, pendiri konsep taman kanak-kanak, percaya bahwa bermain adalah ekspresi tertinggi dari perkembangan manusia di masa kanak-kanak.

Kontribusi Utama:

  • Anak belajar paling baik melalui aktivitas langsung dan bahan kreatif (balok, bentuk, benda alam).
  • Bermain menumbuhkan rasa ingin tahu, imajinasi, dan hubungan dengan dunia sekitar.

5. Teori Bermain Maria Montessori

Maria Montessori jarang memakai kata “bermain”; ia menyebut aktivitas anak sebagai “pekerjaan” anak. Namun konsepnya sejalan dengan belajar melalui bermain.

Prinsip Inti:

  • Anak belajar melalui aktivitas yang dipilih sendiri.
  • Material didesain untuk mencari tahu mandiri (puzzle, manik-manik, objek sensori).
  • Kebebasan memilih kegiatan membangun fokus dan kemampuan memecahkan masalah.

6. Teori Bermain Susan Isaacs

Susan Isaacs percaya bahwa pertumbuhan intelektual dan emosional terjadi secara alami melalui bermain.

Ide Kunci:

  • Bermain membantu anak mengekspresikan perasaan, menyelesaikan konflik, dan memahami pengalaman mereka.
  • Anak menggunakan permainan untuk menguji ide (misalnya, “Apa yang terjadi kalau…?”).
  • Guru perlu mengamati permainan anak untuk memahami cara mereka berpikir.

7. Tahapan Bermain Mildred Parten

Mildred Parten mengidentifikasi enam tahap bermain, yang menunjukkan perkembangan keterampilan sosial anak:

  1. Unoccupied Play – Gerakan acak; menjelajahi lingkungan.
  2. Solitary Play – Bermain sendiri.
  3. Onlooker Play – Mengamati orang lain bermain tanpa ikut serta.
  4. Parallel Play – Bermain berdampingan tanpa interaksi.
  5. Associative Play – Bermain bersama tetapi tanpa tujuan yang terkoordinasi.
  6. Cooperative Play – Bermain bersama dengan tujuan yang sama.

8. Teori Bermain Loris Malaguzzi & Reggio Emilia

Reggio Emilia melihat anak sebagai individu yang mampu, penasaran, dan penuh potensi.
Bermain dianggap sebagai bentuk ekspresi, seperti halnya bahasa.

Konsep Utama:

  • Anak memiliki “seratus bahasa”—beragam cara mengekspresikan ide (seni, gerak, cerita, bangunan, dan lainnya).
  • Proyek bermain bersifat jangka panjang dan berdasarkan minat anak.
  • Guru berperan sebagai mitra yang mengamati, mendokumentasikan, dan mengembangkan permainan.

Mengapa Bermain Sangat Penting bagi Anak-Anak?

Anda mungkin terkejut betapa banyak keterampilan yang terbentuk selama bermain. Ini bukan hanya tentang menghibur anak-anak, tetapi juga tentang membentuk siapa mereka kelak.

Berikut beberapa manfaat bermain yang bisa Anda dapatkan:

1. Meningkatkan Perkembangan Otak

Bermain merangsang otak anak dengan cara yang luar biasa. Melalui bermain, anak-anak mengembangkan:

  • Keterampilan pemecahan masalah
  • Kreativitas dan imajinasi
  • Bahasa dan komunikasi
  • Memori dan konsentrasi

Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa pengalaman bermain membantu membentuk jalur saraf di otak, mendukung pembelajaran jangka panjang dan regulasi emosi (Ginsburg, 2007).

2. Mendukung Pertumbuhan Emosional

Saat anak-anak bermain, mereka menggunakan pembelajaran berbasis bermain dan belajar cara mengelola emosi, menghadapi kekecewaan, dan mengekspresikan perasaan. Seorang anak yang berpura-pura boneka beruangnya sedih sebenarnya sedang memproses perasaannya sendiri dengan cara yang aman dan simbolis.

3. Menguatkan Keterampilan Motorik

Permainan fisik seperti berlari, melompat, memanjat, dan melempar membantu anak-anak mengembangkan keterampilan motorik kasar (gerakan besar) dan keterampilan motorik halus (gerakan kecil seperti menggambar atau menggunakan gunting). 

Keterampilan ini sangat penting untuk tugas sehari-hari seperti menulis, mengikat tali sepatu, atau menangkap bola.

4. Mendorong Keterampilan Sosial

Permainan berkelompok membantu anak-anak belajar bergantian, berbagi, bekerja sama, dan menyelesaikan konflik. Keterampilan ini sangat penting untuk membentuk persahabatan, bekerja dalam tim, dan menghadapi situasi sosial sepanjang hidup.

5. Bermain Mendukung Kemandirian dan Pengambilan Keputusan

Ketika anak-anak memimpin permainan mereka sendiri, mereka berlatih membuat pilihan, mengambil risiko, dan memecahkan masalah. Hal ini membangun kepercayaan diri dan kemandirian, membuat mereka merasa mampu dan berdaya. 

Bermain juga terkait dengan fungsi eksekutif yang lebih baik (perencanaan, fokus, memori) pada anak-anak (Child Neuropsychol, 2014).

6. Bermain Menjadi Landasan untuk Pembelajaran Akademik

Bermain sebenarnya mempersiapkan anak-anak untuk kesuksesan di sekolah. Bermain memperkuat keterampilan yang sama yang dibutuhkan untuk membaca, menulis, matematika, dan sains, yang menghasilkan perkembangan seperti konsentrasi, memori, dan rasa ingin tahu.

Jenis-Jenis Bermain

Bermain memiliki berbagai bentuk dan ukuran. Terkadang bermain bersifat liar dan tidak terduga, dan terkadang mengikuti aturan dan memiliki rencana yang jelas. Kedua gaya bermain ini penting untuk perkembangan anak, dan masing-masing membawa manfaatnya sendiri.

A. Bermain Tanpa Struktur (alias Bermain Bebas)

Bayangkan bermain tanpa struktur sebagai jenis kesenangan yang terjadi secara alami. Tidak ada rencana, tidak ada aturan ketat, dan tidak ada orang dewasa yang memberi tahu anak apa yang harus dilakukan atau bagaimana melakukannya. Ini semua tentang kebebasan, kreativitas, dan mengikuti imajinasi ke mana pun ia membawa.

Jenis permainan ini sangat baik untuk pertumbuhan emosional dan mengajarkan anak-anak cara beradaptasi dengan situasi baru atau menghadapi tantangan tak terduga. Karena bersifat spontan dan terbuka, anak-anak sendiri yang menentukan kesenangan mereka.

Contoh permainan tidak terstruktur:

  • Berpura-pura menjadi bajak laut, koki, atau pahlawan super tanpa skenario atau aturan
  • Menggambar atau melukis secara bebas, tanpa mengikuti instruksi
  • Membangun rumah kecil menggunakan selimut, bantal, dan kursi
  • Menari di ruang tamu mengikuti musik
  • Bermain di halaman belakang, taman, atau bahkan kotak besar yang kosong!

B. Bermain Terstruktur

Sekarang, mari kita bahas bermain terstruktur. Jenis bermain ini sedikit lebih terorganisir. Biasanya terjadi pada waktu dan tempat yang ditentukan, dan sering kali melibatkan aturan atau bimbingan dari orang dewasa, guru, atau pelatih.

Permainan terstruktur sangat baik untuk anak-anak yang lebih besar yang siap belajar mengikuti instruksi, bekerja sama dalam tim, dan mengembangkan keterampilan khusus. 

Permainan ini memberi anak-anak kesempatan untuk menantang diri mereka sendiri dalam kerangka yang aman, yang membantu membangun disiplin, fokus, dan kepercayaan diri.

Contoh permainan terstruktur:

  • Menendang bola dalam latihan sepak bola
  • Les renang atau kelas bermain air untuk balita
  • Kelas tari, musik, atau drama
  • Malam permainan keluarga dengan permainan papan atau kartu
  • Menghadiri waktu bercerita di perpustakaan

Bagaimana Permainan Berkembang Bersama Anak Anda

Seiring anak-anak tumbuh, cara mereka bermain berubah, dan itu hal yang baik! Tubuh mereka menjadi lebih kuat, otak mereka menjadi lebih cerdas, dan mereka mulai bermain dengan cara baru yang lebih menarik.

Ketika anak-anak masih kecil, mereka mungkin hanya melihat mainan atau mengguncang mainan berisik. Namun, seiring bertambahnya usia, mereka mulai menjadi lebih kreatif. Terkadang, mereka membutuhkan ruang lebih luas untuk berlari-lari atau waktu ekstra untuk benar-benar menikmati permainan mereka.

Waktu Main Gadget Bukan Waktu Bermain

Di dunia digital saat ini, layar ada di mana-mana—TV, tablet, ponsel, dan komputer. Meskipun waktu layar dapat mengajarkan dan menghibur anak, penting untuk mengingat satu hal utama: waktu layar tidak sama dengan waktu bermain.

Waktu bermain melibatkan gerakan, imajinasi, dan interaksi nyata. Aktivitas ini membantu anak membangun kemampuan sosial, mengembangkan kreativitas, memperkuat kemampuan motorik, dan memahami emosi. Ketika seorang anak bermain dengan mainan, berinteraksi dengan teman, atau menjelajah lingkungan, otaknya belajar secara aktif melalui cara yang dinamis dan langsung.

Sebaliknya, waktu layar cenderung bersifat pasif. Bahkan ketika kontennya edukatif, anak tetap hanya duduk, menonton, atau mengetuk layar—tanpa menggunakan seluruh indera dan keterampilan fisiknya. Inilah alasan mengapa layar tidak bisa menggantikan permainan yang nyata dan interaktif.

Ketika anak menghabiskan terlalu banyak waktu di depan layar, hal ini dapat memengaruhi perkembangan dan kesejahteraan mereka dalam berbagai cara, seperti:

  • Masalah tidur akibat cahaya biru dan stimulasi berlebihan
  • Rentang perhatian menurun dan kesulitan memfokuskan diri
  • Aktivitas fisik berkurang, yang dapat memengaruhi kesehatan secara keseluruhan
  • Keterlambatan sosial karena kurangnya interaksi langsung
  • Masalah perilaku seperti mudah marah atau sulit mengatur emosi
  • Keterlambatan perkembangan bahasa, terutama pada anak kecil
  • Terpapar konten yang tidak sesuai usia, yang dapat menimbulkan ketakutan, kebingungan, atau perilaku tidak pantas

Kekhawatiran ini didukung oleh para ahli perkembangan anak. [American Academy of Child and Adolescent Psychiatry, 2025]

Ide Bermain yang Menyenangkan dan Mudah Sesuai Usia

Ada begitu banyak cara sederhana dan kreatif untuk melibatkan anak Anda di setiap usia. Berikut adalah ide-ide menyenangkan yang sesuai usia dengan langkah-langkah mudah untuk melakukannya.

1. Untuk Balita (1–3 tahun)

Balita adalah penjelajah kecil yang penasaran yang belajar melalui sentuhan, gerakan, dan pengamatan dunia di sekitar mereka. Mereka menyukai pengulangan, permainan sederhana, dan segala sesuatu yang melibatkan indra mereka. Apa yang bisa Anda lakukan:

  • Permainan Air: Isi bak mandi atau ember dangkal dengan air. Tambahkan cangkir plastik, sendok, dan mainan yang mengapung. Biarkan balita Anda menuang, menyiram, dan menyendok.
  • Permainan Meletuskan Gelembung: Tiup gelembung dan ajak balita Anda untuk mengejar dan meletuskan gelembung tersebut. Anda bisa melakukannya di dalam atau di luar ruangan.
  • Seni Menempelkan Kertas: Tempelkan selembar kertas sticky notes (sisi lengket menghadap luar) ke dinding. Berikan balita Anda barang-barang ringan seperti bola kapas, bentuk busa, atau potongan kain untuk ditempelkan.

2. Untuk Anak Taman Kanak-Kanak (3–5 tahun)

Anak taman kanak-kanak penuh dengan imajinasi dan energi. Mereka menyukai permainan peran dan suka mengubah benda-benda sehari-hari menjadi bagian dari cerita mereka. Beberapa ide yang bisa dicoba:

  • Buat toko kelontong mini
  • Bangun benteng dengan bantal
  • Permainan peran sederhana (seperti “restoran”)

3. Untuk Anak Sekolah (6–8 tahun)

Anak-anak ini siap untuk struktur, tantangan, dan kerja sama tim yang lebih kompleks. Mereka menyukai proyek kreatif dan kegiatan fisik. Beberapa kegiatan bermain untuk anak usia sekolah:

  • Eksperimen sains (seperti membuat slime)
  • Pertunjukan boneka dengan kaus kaki
  • Lintasan rintangan di halaman belakang
  • Perburuan harta karun
  • Tantangan berpakaian
  • Sudut seni dengan krayon, cat, dan kertas
  • Jalan-jalan di alam
  • Bermain pasir
  • Permainan bola atau lompat tali

4. Untuk Anak-anak Lebih Tua (9–12 tahun)

Anak-anak yang lebih tua menyukai permainan yang melibatkan kreativitas, strategi, atau persaingan yang ramah. Mereka juga menyukai proyek yang dapat dilakukan secara mandiri atau bersama teman. Bermain dapat menjadi menarik sebagai:

  • Teater Mini atau Pertunjukan Boneka
  • Camping atau Piknik di Halaman Belakang
  • Membuat Permainan Papan Sendiri

Mendukung Pertumbuhan Anak Melalui Bermain

Pada akhirnya, bermain bukanlah sekadar cara untuk mengisi waktu luang. Mulai dari balita yang menumpuk balok hingga anak yang mengadakan pertunjukan boneka, setiap bentuk bermain membantu membentuk masa depan mereka.

Dan sebagai orang tua, salah satu cara terbaik untuk mendukung perkembangan anak melalui bermain adalah dengan memilih pendidikan awal anak yang tepat. Itulah mengapa kami mendorong Anda untuk mendaftarkan anak Anda ke program Prasekolah & Taman Kanak-Kanak di Rockstar Academy.

Di sini, bermain membangun dasar untuk keunggulan akademik sambil mempersiapkan anak-anak untuk peralihan yang mulus ke pendidikan formal. 

Sebagai Akademi Olahraga dan Seni Pertunjukan terkemuka, Rockstar Academy juga menawarkan berbagai program kegiatan fisik yang menyenangkan dan mendidik, yang membantu anak-anak tumbuh kuat baik secara fisik maupun mental.

Program Preschool & Kindergarten kami tidak hanya tentang kesenangan dan pembelajaran, karena kami juga memperkenalkan siswa muda pada kegembiraan kompetisi yang sehat melalui Elite Championships kami.

Acara rutin ini lebih dari sekadar permainan, karena berperan penting dalam mendorong kegiatan fisik, membangun disiplin, dan menanamkan nilai-nilai hidup penting seperti sportivitas, kepercayaan diri, dan ketahanan.

Yang terbaik? Anda bisa mencobanya terlebih dahulu dengan kelas uji coba gratis. Biarkan anak Anda belajar, tertawa, dan memulai perjalanan Rockstar mereka hari ini!

FAQ

Berapa lama anak-anak sebaiknya bermain setiap hari?

Para ahli merekomendasikan setidaknya 1 jam bermain aktif setiap hari, tetapi lebih banyak lebih baik. Terutama jika itu adalah campuran antara bermain aktif, imajinatif, dan bersosialisasi.

Apakah waktu layar dianggap sebagai bermain?  

Beberapa permainan digital bisa menyenangkan, tetapi waktu layar tidak boleh menggantikan bermain fisik atau imajinatif. Bermain di dunia nyata menawarkan manfaat perkembangan yang lebih kaya.

Anak saya sering bermain sendirian, apakah itu baik?  

Tentu saja! Bermain sendirian sehat, terutama jika diimbangi dengan waktu untuk interaksi sosial. Hal ini membangun kemandirian dan konsentrasi.