Pernahkah Anda melihat seorang anak berkata “TIDAK!” dengan keras dan percaya diri—lalu bertanya-tanya, apakah itu hal yang baik atau justru masalah? Faktanya, semuanya tergantung situasinya!
Mengajarkan anak cara mengekspresikan diri adalah bagian penting dari proses tumbuh kembang, tetapi ada batas tipis antara bersikap asertif dan bersikap agresif.
Ketika anak memahami perbedaan tersebut, mereka belajar untuk membela diri tanpa menyakiti orang lain. Dan itu adalah keterampilan hidup yang akan mereka bawa sepanjang hidup.
Dalam artikel ini, kita akan membahas apa sebenarnya arti asertivitas dan agresi, bagaimana membedakannya, serta bagaimana Anda dapat membimbing anak untuk menyampaikan pikiran dan perasaan mereka dengan percaya diri namun tetap penuh rasa hormat.
Asertif adalah kemampuan untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan secara jelas, jujur, dan penuh hormat. Ini berarti mampu membela diri sendiri sambil tetap mempertimbangkan perasaan orang lain.
Seorang anak yang asertif mungkin akan berkata:
Hal penting dalam asertif adalah anak tersebut bersikap tenang, jelas, dan sopan.
Di sisi lain, agresif adalah ketika seorang anak mengekspresikan kebutuhan atau emosinya dengan cara yang menyakiti, mengancam, atau tidak menghormati orang lain. Hal ini sering muncul dari rasa frustrasi, marah, atau karena belum mengetahui cara berkomunikasi yang lebih baik.
Seorang anak yang agresif mungkin akan berkata atau melakukan:
Agresi hanya berfokus pada “aku”, tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.
Mari kita sederhanakan agar mudah dijelaskan kepada anak:
| Asertif | Agresif |
|
Nada suara tenang dan sopan
|
Nada suara keras, marah, atau mengancam |
| Menggunakan kata-kata yang baik | Menggunakan kata-kata yang menyakitkan atau kasar |
| Mau mendengarkan orang lain | Mengabaikan atau menyela orang lain |
| Mengungkapkan perasaan dengan jelas | Menyalahkan atau menyerang orang lain |
| Menyelesaikan masalah dengan damai | Menimbulkan konflik atau rasa takut |
.jpg)
Mengajarkan asertivitas bukanlah pelajaran satu kali saja. Mari kita bahas bagaimana Anda bisa menerapkannya dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari.
Anak-anak seperti cermin—mereka secara alami meniru apa yang mereka lihat dan dengar dari orang dewasa di sekitarnya. Itulah mengapa cara Anda berkomunikasi sangat berpengaruh terhadap bagaimana anak belajar mengekspresikan diri.
Jika mereka sering mendengar teriakan, menyalahkan, atau nada bicara yang kasar, mereka bisa menganggap itu sebagai cara normal untuk berbicara. Sebaliknya, ketika mereka melihat komunikasi yang tenang dan penuh rasa hormat, mereka cenderung mengikuti contoh tersebut.
Terkadang anak bersikap agresif bukan karena ingin menyakiti orang lain, tetapi karena mereka tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaannya. Mengajarkan kalimat “Saya” membantu mereka berkomunikasi dengan cara yang sederhana dan efektif tanpa menyalahkan orang lain.
Rumusnya mudah diingat: Saya merasa + emosi + ketika + situasi.
Contohnya, daripada berkata “Kamu jahat!”, anak bisa belajar mengatakan, “Saya merasa sedih ketika kamu mengatakan itu.” Perubahan kecil ini sangat berarti karena fokusnya pada perasaan, bukan menyerang orang lain.
Anak belajar paling baik saat mereka merasa senang, dan bermain peran adalah cara yang efektif untuk mengajarkan asertivitas dengan cara yang menarik. Dengan memerankan situasi sehari-hari, anak dapat berlatih apa yang harus dikatakan dan dilakukan sebelum benar-benar mengalaminya.
Anda bisa membuat skenario sederhana seperti seseorang menyerobot antrean, teman yang tidak mau berbagi, atau diminta melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai. Lalu tanyakan, “Kalau asertif, kamu akan jawab apa?” Anda juga bisa bertukar peran agar anak memahami berbagai sudut pandang.
Sebelum anak bisa mengekspresikan perasaan, mereka perlu memahami terlebih dahulu apa yang mereka rasakan. Tanpa kesadaran ini, emosi seperti frustrasi atau marah bisa dengan mudah berubah menjadi perilaku agresif.
Mulailah dengan membantu anak mengenali emosi dasar seperti marah, sedih, kesal, senang, atau bersemangat. Gunakan momen sehari-hari untuk membantu mereka menyadari perasaannya. Misalnya, “Kamu kelihatan kesal ya, karena permainannya sulit?” atau “Wah, kamu kelihatan sangat senang!”
Anda juga bisa membuatnya lebih interaktif dengan menggunakan chart emosi atau sekadar menanyakan perasaan anak setiap hari. Ketika anak belajar emosi, mereka akan lebih mampu mengungkapkannya dengan tenang daripada bereaksi secara impulsif.
Salah satu pelajaran penting yang perlu dipahami anak adalah bahwa semua perasaan itu valid, tetapi tidak semua tindakan bisa diterima. Wajar bagi anak untuk merasa marah, kesal, atau kecewa, tetapi mereka tetap perlu diarahkan dalam mengekspresikan emosi tersebut dengan cara yang tepat.
Gunakan bahasa yang sederhana dan jelas, seperti: “Boleh marah, tapi tidak boleh memukul,” atau “Kamu boleh bilang ‘berhenti’, tapi tidak boleh berteriak.” Batasan ini membantu anak memahami perbedaan antara apa yang mereka rasakan dan bagaimana mereka seharusnya bertindak.
Penguatan positif adalah alat yang sangat efektif saat mengajarkan keterampilan baru pada anak. Ketika Anda melihat anak berkomunikasi secara asertif—meskipun dalam hal kecil—luangkan waktu untuk mengapresiasinya.
Daripada hanya berkata “Bagus!”, cobalah lebih spesifik, seperti “Mama bangga kamu minta dengan sopan,” atau “Cara kamu menyampaikan perasaan tadi sudah bagus.” Ini membantu anak memahami apa yang mereka lakukan dengan benar dan mendorong mereka untuk mengulanginya.
Saat anak menghadapi konflik, mungkin terasa lebih mudah untuk langsung turun tangan dan menyelesaikannya. Namun, momen seperti ini justru merupakan kesempatan berharga untuk mengajarkan keterampilan memecahkan masalah.
Alih-alih langsung memberi solusi, arahkan anak dengan pertanyaan terbuka seperti, “Apa yang bisa kamu katakan?”, “Menurutmu apa yang bisa membuat ini lebih baik?”, atau “Bagaimana kita bisa menyelesaikan ini bersama?” Cara ini mendorong anak untuk berpikir dan menemukan solusi mereka sendiri.

Ketika anak bersikap agresif, penting untuk memahami bahwa momen ini adalah kesempatan berharga untuk belajar. Alih-alih melihat agresif sebagai perilaku buruk yang harus dihukum, cobalah melihatnya sebagai tanda bahwa anak membutuhkan bimbingan untuk mengekspresikan emosinya dengan cara yang lebih baik.
Langkah pertama dan paling penting adalah tetap tenang. Ini memang tidak mudah, terutama di situasi yang penuh emosi, tetapi merespons dengan kemarahan hanya akan memperburuk keadaan.
Ketika orang dewasa meninggikan suara atau bereaksi secara keras, anak cenderung menirunya. Dengan menjaga nada bicara tetap stabil dan tegas, Anda menunjukkan kepada anak bagaimana mengelola emosi dengan lebih terkendali.
Selanjutnya, luangkan waktu untuk mengakui perasaan anak. Meskipun perilakunya tidak dapat diterima, emosinya tetap nyata dan valid. Anda bisa mengatakan, “Mama/Papa tahu kamu sedang sangat marah.” Kalimat sederhana ini membantu anak merasa dipahami, sehingga intensitas emosinya bisa menurun dan mereka lebih siap untuk mendengarkan.
Setelah anak merasa didengar, Anda dapat mulai mengarahkan perilakunya dengan menunjukkan cara yang lebih baik untuk mengekspresikan diri.
Misalnya, daripada memukul, Anda bisa berkata, “Daripada memukul, kamu bisa bilang ‘Aku sedang kesal.’” Ini mengajarkan bahwa perasaan mereka boleh dirasakan, tetapi cara mengekspresikannya perlu tepat.
Jika Anda sedang mencari tempat terbaik untuk mendukung tumbuh kembang anak, program Prasekolah & Taman Kanak-kanak di Rockstar Academy bisa menjadi pilihan yang tepat.
Sebagai Akademi Olahraga & Seni Pertunjukkan terbaik, Rockstar Academy tidak hanya memberikan pendidikan usia dini yang berkualitas, tetapi juga menghadirkan berbagai kegiatan fisik, acara seru, dan kompetisi yang dirancang sesuai usia, tingkat kemampuan, dan minat anak.
Salah satunya adalah kesempatan untuk mengikuti Elite Championships, sebuah ajang kompetisi rutin yang membantu menumbuhkan disiplin dan sportivitas. Di sini, anak-anak dapat tampil di berbagai lokasi menarik serta mendapatkan apresiasi berupa piala dan sertifikat dalam perjalanan mereka menjadi juara.
Dengan bimbingan guru yang berpengalaman, anak-anak akan berkembang menjadi pribadi yang lebih adaptif, percaya diri, dan siap menghadapi tantangan baru. Lebih menarik lagi, Rockstar Academy juga menyediakan kelas uji coba gratis, sehingga anak Anda bisa merasakan langsung pengalaman belajar yang menyenangkan sebelum mendaftar!
Pada usia berapa anak bisa belajar asertivitas?
Anak sudah bisa mulai belajar dasar asertivitas sejak usia 2–3 tahun, misalnya dengan menggunakan kata sederhana seperti “tidak” atau “berhenti.” Seiring bertambah usia, mereka dapat mempelajari cara komunikasi yang lebih kompleks.
Apakah boleh anak mengatakan “tidak”?
Tentu saja! Mengatakan “tidak” adalah bagian penting dari menetapkan batasan. Yang terpenting adalah mengajarkan mereka untuk menyampaikannya dengan sopan dan penuh hormat.
Bagaimana cara menghadapi anak yang sangat agresif?
Tetap tenang, akui perasaan mereka, dan arahkan ke cara berkomunikasi yang lebih baik. Pengajaran yang konsisten dan memberikan contoh yang baik jauh lebih efektif dibandingkan hanya memberikan hukuman.